BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sungguh mulia menjadi seorang ibu.
Tuhan telah menganugrahinya kelembutan dan kasih sayang. Ibu akan makin sempurna
bila juga mampu memberikan awal kehidupan yang terbaik. Dan, Sebenarnya tidak
ada ibu yang tidak mampu memberikannya, karena tuhan telah menitipkannya. Air
susu ibu adalah makanan terbaik di awal kehidupan bayi. Tak ada yang dapat
menyamainya. Dan sampai 4 - 6 bulan akan menjadi sendi-sendi kehidupan yang
terbaik baginya kelak. Simaklah juga betapa Asi eksklusif tidak sekedar
bermakna memberi minum saat dia haus dan memberi makan saat dia lapar. Di balik
ritme pemberian ASI secara Eksklusif itu terkandung manfaat yang besar baik
bagi si kecil, ibu, ayah, dan juga negara ( Utami Roesli. 2000. Mengenal ASI Eksklusif ).
Pentingnya pemberian ASI Eksklusif
terlihat dari peran dunia yaitu pada tahun 2006 WHO (World Health Organization)
mengeluarkan Standar Pertumbuhan Anak yang kemudian diterapkan di seluruh dunia
yang isinya adalah menekankan pentingnya pemberian ASI saja kepada bayi sejak
lahir sampai usia 6 bulan. Setelah itu, barulah bayi mulai diberikan makanan
pendamping ASI sambil tetap disusui hingga usianya mencapai 2 tahun. Sejalan
dengan peraturan yang di tetapkan oleh WHO. Di Indonesia juga menerapkan
peraturan terkait pentingnya ASI Eksklusif yaitu dengan mengeluarkan Peraturan
Pemerintah (PP) nomor 33/2012 tentang pemberian ASI Eksklusif. Peraturan ini
menyatakan kewajiban ibu untuk menyusui bayinya sejak lahir sampai bayi berusia
6 bulan.
ASI Eksklusif merupakan sumber gizi
yang ideal karena komposisinya seimbang secara alami dan sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan bayi, sehingga ASI Eksklusif merupakan makanan
yang paling sempurna bagi bayi kualitas dan kuantitasnya, disamping murah,
mudah didapat dan juga pemberiannya bisa dilakukan setiap hari makanan pertama
yang terbaik dan paling sempurna untuk bayi. Kandungan gizinya yang tinggi dan
adanya zat kebal didalamnya, membuat ASI Eksklusif tidak tergantikan oleh susu
fomula yang paling hebat dan mahal sekalipun, selain itu ASI Eksklusif juga
tidak pernah basi, selama masih dalam tempatnya. Terkait itu, ada satu hal yang
disayangkan yakni rendahnya pemahaman ibu, keluarga dan masyarakat mengenai
pentingnya ASI Eksklusif bagi bayi. Akibatnya program
pemberian ASI Eksklusif tidak berlangsung secara optimal (yuliarti.2010).
Hasil penelitian
oleh para pakar menunjukan bahwa gangguan pertumbuhan pada awal pertumbuhan
balita, antara lain disebabkan kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan,
pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat, makanan tambahan
tidak cukup mengandung energi dan zat gizi mikro terutama mineral, besi dan
seng, perawatan bayi yang kurang memadai dan ibu tidak berhasil memberikan ASI
Eksklusif kepada bayinya (Supriyono, 2008).
Dampak bagi bayi jika tidak diberikan
ASI Eksklusif , selama 13 minggu pertama dalam kehidupannya memiliki tingkat
infeksi pernafasan dan infeksi saluran cerna yang lebih tinggi dibandingkan
dengan bayi-bayi lain yang diberikan ASI secara Eksklusif. Menurunnya tingkat
infeksi saluran cerna ini tetap bertahan bahkan sesudah selesai masa pemberian
ASI dan berlanjut hingga tahun-tahun pertama dalam kehidupan anak Selain itu,
bayi-bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif mudah terkena
penyakit - penyakit lain yang berhubungan dengan kekebalan tubuh (Melani,2010).
Data di Dinas Kesehatan Kota Manado
tahun 2014, menunjukan bahwa jumlah
bayi di kota Manado
sebanyak 7,150 bayi
dan yang diberikan ASI Eksklusif
hanya
sejumlah 274 orang
bayi (9,59%) (Anonim,
2012).
Data Kelurahan Karame yang di peroleh
dari Puskesmas Wawonasa Kecamatan
Singkil pada bulan Januari
sampai Desember tahun 2014 menunjukan bahwa dari 91 bayi yang telah lahir normal diberi ASI Eksklusif
sebanyak 54 bayi (59%) dan terdapat
37 bayi yang tidak diberikan
ASI Eksklusif
(41,%), Sedangkan
hasil survei awal di kelurahan Karame Kecamatan Singkil pada Bulan November
2014 terdapat 6 bayi yang lahir normal diberikan ASI eksklusif sebanyak orang dan terdapat 2 bayi yang tidak diberikan
ASI eksklusif, masih adanya bayi
yang tidak diberikan ASI eksklusif disebabkan karena ketidak tahuan ibu hamil
mengenai pemberian ASI Eksklusif dan juga salah satu faktor penghambat ibu percaya dengan ASI
adalah media yang mana
mempromosikan susu formula,
padahal sesuai dengan Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No 39 Tahun
2013 tentang pemberian susu formula dan produk lainnya bahwa promosi susu
formula harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tapi jika melihat kenyataan
tidak sebagaimana peraturan yang ada. Pada akhirnya melalui promosi susu
formula yang makin gencar diperparah kembali dengan kebijakan setiap rumah
sakit yang masih belum tegas mengakibatkan meningkatkannya penggunaan susu
formula dari pada ASI.
Berdasarkan
uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang ASI
Eksklusif Di Kelurahan Karame Kecamatan Singkil Kota Manado, sehingga nantinya
dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan
penyuluhan kepada ibu-ibu hamil mengenai pentingnya pemberian ASI Eksklusif
pada bayi.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut,
maka rumusan masalah penelitian ini” Bagaimana Gambarang Tingkat Pengetahuan
Ibu Hamil Tentang ASI Eksklusif Di Kelurahan Karame Kecamatan Singkil Kota
Manado”
C. Tujuan
1.
Tujuan Umum
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Karame Kecamatan Singkil Kota
Manado.
2.
Tujuan khusus
Untuk mengetahui gambaran tingkat
pengetahuan ibu hamil terhadap pentingnya ASI eksklusif berdasarkan karakteristik
umur, jenjang pendidikan dan jumlah anak.
D. Manfaat penelitian
1.
Secara Teoritis
Penelitian ini diharpkan dapat memberi sumbangan atau
kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya, khususnya
dibidang kesehatanbagi instansi dan daerah terkait dan bagi para peneliti untuk
dapat melanjutkan kajian tentang ASI Eksklusif.
2.
Secara Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan
memberi informasi yang benar tentang ASI Eksklisif bagi para ibu hamil
di Kelurahan Karame Kecamatan Singkil Kota Manado, sehingga dapat meningkatkan kesiapan untuk
menghadapinya (saryono, SKp, Mkes, 2011).
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
1.
Pengertian Pengetahuan
Menurut
KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pengetahuan bisa dimaknai sebagai segala
sesuatu yang diketahui, Pengetahuan dan ilmu selalu dihubungkan dengan sekolah
dan pendidikan . Padahal pengertian pengetahuan tidak hanya terbatas pada kedua
hal tersebut. Kegiatan sehari-hari juga bisa memberikan pengetahuan, misalnya
saat bermain, menonton televisi, mendengar radiao, dan kegiatan ringan lainnya.
Pengtahuan yang seperti itulah yang biasanya lebih mudah diingat dan melekat dalam
pikiran kita. Karena sesungguhnya cara termudah untuk mendapat pengetahuan
bukanlah dengan menghafal, tetapi memahami dan mencoba melakukannya. Berikut
ini adalah pengertian pengetahuan menurut para ahli atau pakar.
a. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah
merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap
obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
b. Menurut Ngatimin (1990), pengetahuan adalah sebagai
ingatan atas bahan-bahan yang telah
dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat
kembali
sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh
teori,
tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai.
2. Sumber Pengetahuan
Menurut Istiarti (2000), pengetahuan
seseorang biasanya diperoleh dari berbagai macam sumber, misalnya media massa,
media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat
dekat, dan sebagainya. Sumber pengetahuan dapat berupa pemimpin- pemimpin
masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan, dan
sebagainya (Notoatmodjo, 2005).
3. Tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003),
pengetahuan yang tercakup dalam domain mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu
materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.
c.
Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan suatu kemampuan
untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi
sebenarnya.
d.
Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk
menjabarkan suatu materi atau objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan
untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusun suatu
formula baru dan formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan
untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.
4. Faktor Yang
Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Adapun faktor yang sering mempengaruhi
tingkat pengetahuan seseorang menurut para pakar dan ahli.
Menurut Notoatmodjo (2007), ada
beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang
yaitu:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan
di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pengetahuan sangat
erat kaitannya dengan pendidikan tinggi, maka orang
tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu ditekankan bahwa seorang yang
perpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan
rendah pula.
b. informasi
Informasi yang di peroleh
baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka
pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan
pengetahuan.
c. Sosial Budaya dan Ekonomi
Kebiasaan tradisi yang
dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau
buruk. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya
ealaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan
tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan ntuk kegiatan tertentu, sehingga status
sosial ekonomi ini akan mempengaruhi ekonomi seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala
sesuatu yang ada disekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, mauppun
sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam
individu yang berada dalam lingkungan tersebut.
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber
pengetahuan adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan
masalah yang dihadapi masa lalu.
f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap
daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin
berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya,sehingga pengetahuannya yang
diperolehnya semakin membaik.
B. Tinjauan Umum Tentang Asi Eksklusif
1. Tanggung Jawab Bidan Dalam Menerapkan
Asi Eksklusif
Bidan sebagai profesi
mempunyai tanggung jawab pokok pelayanan kesehatan ibu dan anak harus mampu
menerapkan konsep Asi Eksklusif agar bayi mendapatkan nutrisi yang adekuat
untuk tumbuh kembangnya. Ada dua belas konsep penerapan Asi Eksklusif yang
penting dipahami oleh bidan, yaitu pengertian Asi Eksklusif, Asi adalah
mukjizat, pengelompokan Asi, Peran Asi terhadap kecerdasan anak, Peran Asi
terhadap Keseghatan, Komposisi nutrisi dalam kolostrum, Asi dan Air Susu Sapi,
cara menyusi yang benar, pemberian segera setelah lahir, menghindari penggunaan
dot.
2. Pengertian/Defenisi Asi Eksklusif
Asi Eksklusif adalah bayi
yang hanya diberi Asi saja selama 6 bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti
susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, seta tanpa tambahan makanan
padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim. Setelah 6
bulan baru mulai diberikan makanan pendamping Asi ( MPASI ). Asi dapat
diberikan sampai anak berusia dua tahun atau lebih (E.Retna Ambarwati, S.Si. T. 2009)
3. Asi Sebagai Mukjizat
Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa
telah memelihara dan memberi makan buah hati Ibu selama 9
bulan di dalam rahim. Setelah itu, Tuha Yang Maha Esa merancang menyusui untuk
memelihara bayi di tahun-tahun pertama kehidupan. Air susu Ibu adalah makanan
terbaik dan paling sesuai yang pernah ada untuk bayi manusia. Yang lebih
menarik lagi adalah Asi sangat individual dan spesial karena komposisinya berbeda
untuk tiap anak. Susu setiap jenis mamalia berbeda dan bersifat spesifik
untuk tiap spesies, yaitu disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan dan
kebiasaan menyusuinya. Misalnya ikan paus yang hidup dalam lingkungan yang
sangat dingin dan waktu menyusuinya singkat, kadar lemak dalam susunya bisa
mencapai 50, sedangkan kelinci yang menyusui anaknya hanya sekali sehari,
susunya mengandung kurang lebih 10% protein. Bayi manusia akan mencapai 2 kali
berat lahirnya dalam waktu sekitar 6 bulan, sedangkan anak sapi hanya
memerlukan waktu 6 minggu, sehingga dapat dimengerti bahwa komposisi ASI dan
susu sapi pastilah berbeda. ASI dalam satu spesies pun berbeda. ASI
seorang Ibu bisa berbeda dengan ASI Ibu yang lain ( Ariani,
dr. 2009 ).
4. Manfaat Asi Eksklusif
Menurut (Dwi Sunar Prasetyono:2009)
menyusui bayi mendatangkan keuntungan bagi Bayi, Ibu, Keluarga, Masyarakat, dan
Negara.
1. Manfaat Asi
Bagi bayi
a. Ketika bayi berusia 6-12
bulan, Asi bertindak sebagai makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari
60% kebutuhan bayi. Setelah berumur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi
30% dari kebutuhan bayi, pemberian Asi tetap dianjurkan.
b. Para dokter menyepakati bahwa
pemberian Asi dapat mengurangi resiko infeksi lambung dan usus, sembelit, serta
alergi.
c. Bayi yang diberi Asi lebih
kebal terhadap penyakit ketimbang bayi yang tidak memperoleh Asi.
d. Asi selalu siap sedia ketika
bayi menginginkannya.
e. Apabila bayi sakit, Asi adalah makanan yang terbaik untuk
diberikan kepadanya.
f. Bayi yang lahir prematur lebih cepat tumbuh jika diberi
Asi.
g. IQ pada bayi yang memperoleh Asi
lebih tinggi 7-9 poin ketimbang bayi yang tidak diberi Asi.
2. Manfaat Bagi Ibu
a. Isapan bayi dapat membuat
rahim menciut, mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa prakehamilan,
serta mengurangi risiko perdarahan.
b. Lemak disekitar panggul dan pada yang ditimbun pada masa
kehamilan berpindah ke dalam ASI, sehingga ibu lebih cepat langsing kembali.
c. Risiko terkena kanker rahim
dan kanker payudara lebih rendah.
d. Menyusui bayi lebih menghemat waktu .
e. Asi lebih murah.
f. ASI selalu bebas kuman
g. ASI dalam payudara tidak pernah basi
3. Manfaat Asi Bagi Keluarga
a. Tidak perlu menghabiskan
banyak uang untuk membeli susu formula dan peralatannya.
b. Jika bayi sehat, berarti
keluarga mengeluarkan lebih sedkit biaya guna perawatan kesehatan dan menghemat
waktu keluarga.
c. Penjarangan kehamilan lantaran
efek kontrasepsi MAL dari ASI eksklusif.
d. Menghemat tenaga keluarga
karena ASI selalu siap tersedia.
e. Keluarga tidak perlu repot
membawa botol susu, dan lain sebagainya ketika bepergian.
4. Manfaat Bagi Negara
a. Menghemat devisa negara
lantaran tidak perlu mengimpor susu formula dan peralatan lainnya.
b. Bayi sehat membuat negara
lebih sehat.
c. Penghematan pada sektor
kesehatan, karena jumlah bayi yang sakit hanya sedikit.
d. Memperbaiki kelangsungan hidup
anak dengan menurunkan angka kematian.
e. Melindungi lingkungan lantaran
tidak ada pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk merebus air, dan peralatannya.
f. ASI merupakan sumber daya yang
terus menerus diproduksi.
5. Pengelompokan Asi
Asi Stadium I
ASI Stadium I adalah kolostrum.
Kolostrum merupakan cairan yang pertama disekresi oleh kelenjar payudara dari
hari ke 1 sampai hari ke 4. Kolostrum berwarna kuning keemasan disebabkan oleh
tingginya komposisi lemak dan sel-sel hidup. Kolostrum merupakan pencahar
(pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium sehingga mukosa usus bayi yang
baru lahir segera bersih dan siap menerima Asi.
Asi Stadium II
Asi stadium II adalah ASI peralihan.
ASI ini diproduksi pada hari ke 4 sampai hari ke 10. Komposisi protein makin
rendah, sedangkan lemak dan hidrat arang makin tinggi dan jumlah volume ASI
semakin meningkat.
Asi Stadium III
ASI stadium III adalah ASI matur. ASI
yang disekresi dari hari ke 10 sampai seterusnya. ASI matur merupakan nutrisi
bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi sampai berumur 6
bulan (Purwanti: 2009).
C. Teknik/Cara Menyusui Yang Benara
a. Cara
menyui yang benar
Cara menyusui yang benar adalah
memberikan ASI kepada bayi dengan perletakan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Suhardi dan Hesti,
2008). Memberi ASI dalam suasana
yang santai bagi ibu dan bayi. Buat kondisi ibu senyaman mungkin. Selama beberapa
minggu pertama, bayi perlu diberi ASI setiap 2, 5 – 3 jam sekali. Menjelang
akhir minggu ke enam, sebagian besar kebutuhan bayi akan ASI setiap 4 jam
sekali. Jadwal ini baik sampai bayi berumur antara 10 – 12 bulan. Pada usia ini
sebagian besar bayi tidur sepanjang malam sehingga tidak perlu lagi memberi
makan di malam hari ( Saryono, 2008 ).
b. Posisi
Menyusui.
1. Posisi
Dekapan
Posisi klasik dan telah menjadi
kegemaran kebanyakan para ibu, posisi ini membolehkan perut bayi dan perut ibu
bertemu agar tidak perlu memutar kepalanya untuk menyusui. Kepala bayi berada
didalam dekapan, sokong kepala, badan, dan punggung bayi serta lengan bayi
perlu berada di bagian sisinya ( Saryono, 2008 ).
2. Posisi
Football hold.
Posisi ini sangat sesuai jika baru pulih
dari pembedahan caesar, memiliki payudara yang besar, menyusui bayi prematur
atau bayi yang kecil ukuranya atau menyusui anak kembar pada waktu yang
bersamaan. Sokong kepala bayi dengan tangan, menggunakan bantal untuk menyokong
belakang badan bayi ( Saryono, 2009 ).
3. Posisi
berbaring.
Posisi ini apabila ibu dan bayi merasa
letih. Jika baru pulih dari pembedahan caesar ini mungkin satu-satunya posisi
yang biasa dicoba pada beberapa hari pertama. Sokong kepala ibu dengan lengan
dan sokong bayi dengan tangan atas ( Saryono 2009 ).
D. Langkah – Langkah Menyusui Yang Benar
1. Cuci
tangan sebelum menyusui.
2. Ibu duduk
atau berbaring dengan santai.
3. Membuka
pakaian bagian atas.
4. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan
pada puting dan sekitar areola payudara ( cara ini mempunyai manfaat sebagai
desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu ).
5. Meletakan bayi pada satu lengan, kepala bayi berada
pada lengkung siku ibu dan bokong bayi berada pada lengan bawah ibu.
6. Menempelkan perut bayi pada perut ibu dengan
meletakan satu tangan bayi di belakang badan ibu yang satu di depan, kepala
bayi menghadap payudara.
7. Memposisikan
bayi dengan telinga dan lengan pada garis lurus.
8. Memegang payudara dengan ibu jari diatas dengan
jari yang lain menopang dibawah serta jangan menekan puting susu dan areolanya.
9. Meransang membuka mulut bayi, menyentuh pipi dengan
puting susu atau menyentuh sudut mulut bayi.
10. Setelah bayi membuka mulut, anjurkan ibu untuk
mendekatkan dengan cepat kepala bayi ke payudara ibu, kemudian memasukan puting
susu serta sebagian besar areola ke mulut bayi.
11. Setelah bayi mulai mengisap, menganjurkan ibu
tidak memegang atau menyangga payudara lagi.
12. Memperhatikan
bayi selama menyusui.
13. Cara melepas isapan bayi, jari kelingking
dimasukan ke mulut bayi melalui sudut
mulut atau dagi bayi ditekan ke bawah.
14. Setelah selesai menyusui, mengoleskan sedikit ASI
ppada puting susu dan areola. Biarkan kering dengan sendirinya.
15. Menyendawakan bayi, Perlahan-lahan sampai bayi
bersendawa, bila tidak bersendawa tunggu 11–15 menit atau bayi ditengkurapkan
dipangkuan ( Anggraini, 2010 ).
|
Gambaran
tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif
|
|
Baik
|
|
Tahu
|
|
Cukup
|
|
Memahami
|
|
Kurang
|
|
Aplikasi
|
|
Analisa
|
|
Evaluasi
|
|
Sintesis
|
|
|
|
|
: Variabel
yang diteliti
Gambar 1 : Kerangka Konsep
Penelitian
